Breaking News

Pesilat Cilik Warnai Pelantikan IPSI Mauk, Sekolah Jadi Ruang Regenerasi Pencak Silat

Pesilat cilik dalam pelantikan IPSI Mauk Kabupaten Tangerang
SILORA NEWS, MAUK, KABUPATEN TANGERANG — Kehadiran para pesilat cilik menjadi salah satu pemandangan menarik dalam pelantikan Pengurus IPSI Kecamatan Mauk masa bakti 2026–2030 di Aula Otto Iskandardinata, Kecamatan Mauk, Ahad, 6 September 2026.

Anak-anak dan pelajar yang tampil bukan sekadar pelengkap seremoni. Kehadiran mereka memperlihatkan proses regenerasi pencak silat yang selama bertahun-tahun dikembangkan melalui lingkungan pendidikan di Kecamatan Mauk.

Bendahara IPSI Kecamatan Mauk, Putri Rahmawati, mengatakan pencak silat tradisional sebenarnya telah mengakar lama dalam kehidupan masyarakat Mauk. Namun perubahan zaman menghadirkan tantangan baru dalam proses pewarisannya.

Putri yang sehari-hari mengabdi sebagai pendidik di SDN Mauk 1, sejak 2025 juga dipercaya sebagai Koordinator Bela Diri pada Komite Olahraga Kecamatan Mauk dan sejak 2018 menjadi Koordinator Pembina Pencak Silat Sekolah di Kabupaten Tangerang.

Pesilat cilik dalam pelantikan IPSI Mauk Kabupaten Tangerang

Menurutnya, tempat-tempat latihan tradisional tidak seramai dahulu. Regenerasi guru, perubahan pola kehidupan masyarakat, keterbatasan ruang latihan hingga meningkatnya ketertarikan anak terhadap gim dan gawai menjadi tantangan tersendiri.

Di sisi lain, pemberitaan mengenai tawuran dan konflik yang melibatkan oknum anggota perguruan turut melahirkan stigma negatif terhadap pencak silat.

“Padahal nilai yang hendak diwariskan melalui pencak silat justru pengendalian diri, keberanian, penghormatan, tanggung jawab dan akhlak,” kata Putri.

Pencak Silat Masuk ke Ruang Pendidikan

Keprihatinan terhadap regenerasi tersebut mendorong lahirnya pendekatan pembinaan yang lebih dekat dengan dunia pendidikan.

Rintisan pembinaan pencak silat bagi pelajar di Mauk sebenarnya telah muncul sejak pertengahan 1990-an. Namun gagasan tersebut baru dirumuskan secara lebih sistematis pada 2011 atas inisiasi Iwan Dharmawan, Ketua PPS Cakrabuana Muda Indonesia, melalui formulasi Program Pencak Silat Sekolah.

Pada 2012, konsep tersebut mulai diterapkan di SMP Negeri 1 Mauk dan kemudian terus dievaluasi serta dikembangkan.

Menurut Putri, Pencak Silat Sekolah bukan sekadar memindahkan latihan perguruan ke halaman sekolah. Materi, metode dan tahapan pembinaan harus disesuaikan dengan usia, jenjang pendidikan dan perkembangan peserta didik.

Karena itu, pendidikan karakter dan kepemimpinan ditempatkan bersama dengan keterampilan bela diri, kebugaran, pelestarian budaya dan pembinaan prestasi.

“Anak tidak hanya diarahkan supaya bisa melakukan teknik pencak silat. Kita ingin pencak silat menjadi media untuk menumbuhkan disiplin, tanggung jawab, keberanian, pengendalian diri, rasa hormat, kerja sama dan kepemimpinan,” ujarnya.

Semangat tersebut kemudian berkembang dalam pembinaan Satria Wiyata Mandala dan menemukan persinggungan dengan gagasan Raksawaruga, yang menempatkan kemampuan bela diri bersama akhlak, ilmu dan pengabdian kepada masyarakat.

Dengan pendekatan itu, pesilat diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh tanpa menjadi kasar, berani tanpa menjadi arogan, serta memiliki kemampuan sekaligus pengendalian diri.

Prestasi Menjadi Buah Pembinaan

Pendekatan pembinaan melalui sekolah juga mulai menunjukkan hasil pada jalur prestasi.

Pada 2016, atlet SMP Negeri 1 Mauk Ahmad Nurfadli dan Harum Fatimah menjuarai pencak silat O2SN tingkat Kabupaten Tangerang. Setahun kemudian, Siti Nuraini dan Siti Nurpariha menyumbangkan medali bagi Kecamatan Mauk pada PORKAB Tangerang 2017.

Prestasi berikutnya dicatat Ridwan Maulana, pelajar SMKN 5 Kabupaten Tangerang asal Mauk Timur. Setelah meraih emas pada Sirkuit IPSI Kabupaten Tangerang 2018, Ridwan menjadi juara pertama O2SN pencak silat Provinsi Banten pada 2019 dan melaju ke O2SN tingkat nasional di Aceh.

“Prestasi adalah salah satu buah pembinaan. Yang harus kita bangun adalah sistemnya agar potensi anak-anak tidak terputus di tengah jalan,” kata Putri.

Upaya tersebut memperoleh ruang lebih kuat setelah terbit Peraturan Gubernur Banten Nomor 15 Tahun 2014 yang secara eksplisit menempatkan pencak silat sebagai salah satu muatan lokal seni budaya Banten bagi pendidikan menengah.

*Mengembalikan Pencak Silat sebagai Pendidikan*

Bagi Putri, keberadaan pencak silat di sekolah mempunyai tujuan lebih besar daripada menghasilkan atlet.

Sekolah memungkinkan proses regenerasi berlangsung lebih terencana dan berkesinambungan. Orang tua dapat mengikuti perkembangan anak, sekolah melakukan pengawasan, sementara pelatih dituntut menerapkan prinsip pendidikan dan keselamatan peserta didik.

Pendekatan tersebut sekaligus dapat menjadi jalan untuk memperbaiki citra pencak silat di masyarakat.

“Ketika orang tua melihat anaknya menjadi lebih disiplin, santun, percaya diri, sehat dan bertanggung jawab karena pencak silat, masyarakat akan melihat pencak silat dengan cara yang berbeda,” ujarnya.

Itulah sebabnya kehadiran para pesilat cilik dalam pelantikan IPSI Mauk 2026–2030 memiliki arti penting. Mereka bukan sekadar tampil dalam sebuah acara organisasi, tetapi menjadi gambaran bahwa proses pewarisan sedang berlangsung.

“Harapan kami bukan sekadar semakin banyak anak yang bisa pencak silat. Kami ingin semakin banyak anak tumbuh menjadi manusia yang baik melalui pencak silat. Prestasinya kita dorong, tradisinya kita lestarikan, tetapi karakter manusianya tetap yang utama,” kata Putri.

Pencak silat akan tetap hidup selama ada generasi yang mewarisinya. Dan di Mauk, sekolah sedang menjadi salah satu ruang penting untuk menyiapkan generasi tersebut.

*Red

0 Komentar

© Copyright 2026 - SILORA NEWS