Breaking News

Filosofi Golok Kopak Rawing Warnai Pelantikan Pengurus IPSI Mauk Periode 2026–2030

Filosofi Golok Kopak Rawing Warnai Pelantikan Pengurus IPSI Mauk Periode 2026–2030

SILORA NEWS, TANGERANG — Suasana khidmat menyelimuti Aula Otto Iskandardinata, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, pada Ahad, 6 September 2026. Jajaran Pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kecamatan Mauk masa bakti 2026–2030 resmi dilantik dan mengucapkan ikrar untuk menjalankan amanah organisasi.

Namun, di tengah prosesi pelantikan, perhatian para tamu undangan tertuju pada sebuah momen yang sarat makna. Dua tokoh Dewan Pembina IPSI Mauk, H. Ade Rosid dan Iwan Dharmawan, menyerahkan dua bilah Golok Kopak Rawing full tanduk kepada Ketua IPSI Kabupaten Tangerang, H. Yani Sutisna, S.H., M.Si., dan Sekretaris IPSI Kabupaten Tangerang, H. Sukri Aryansyah, S.E., M.M.

Penyerahan tersebut menjadi simbol bahwa pelantikan kepengurusan baru IPSI Mauk bukan sekadar pergantian struktur organisasi, tetapi juga bagian dari upaya meneruskan amanah untuk menjaga nilai, tradisi dan kebudayaan pencak silat.

Kopak Rawing sebagai Filosofi Kehidupan

Bagi Iwan Dharmawan, Golok Kopak Rawing bukan sekadar benda budaya. Morfologi golok tersebut menurutnya dapat dimaknai sebagai gambaran perjalanan manusia dalam menghadapi perubahan dan berbagai ujian kehidupan.

“Kopak Rawing bagi saya bukan sekadar benda budaya. Morfologinya dapat dibaca sebagai perjalanan manusia. Ada pegangan, perjalanan, perubahan, dan ujian, tetapi arah serta tujuan tidak boleh hilang. Demikian pula seorang pendekar dan seorang pemimpin,” ujar pria yang akrab disapa Abi Iwan tersebut.

Ia menjelaskan, sisi tajam golok dapat dimaknai sebagai simbol ketegasan dalam memegang prinsip. Sementara bagian punggung yang kokoh menggambarkan ketangguhan mental, sedangkan pangkal golok menjadi simbol pegangan nilai yang tidak boleh goyah.

Filosofi tersebut menjadi pesan penting bagi kepengurusan IPSI Mauk yang baru di bawah komando Abdul Ghofur, S.H. Ketegasan dan kekuatan, kata Abi Iwan, harus tetap diiringi kemampuan mengendalikan diri.

Nilai kependekaran tidak semata-mata ditunjukkan melalui kekuatan, tetapi juga melalui kemampuan untuk tajam dalam berpikir, halus dalam berbudi, teguh dalam pendirian dan tetap rendah hati.

Menjaga Prestasi, Merawat Akar Budaya

Sebagai sosok yang menakhodai PPS Cakrabuana Muda Indonesia sekaligus menginisiasi ruang pemikiran Raksawaruga, Abi Iwan melihat Kecamatan Mauk memiliki modal kebudayaan yang besar.

Ratusan pesilat, puluhan padepokan serta petuah para pinisepuh dinilai sebagai aset pengetahuan yang perlu dijaga dan didokumentasikan secara sistematis agar tidak hilang ditelan zaman.

Menurutnya, pelestarian budaya melalui semangat Raksawaruga bukan berarti mengajak generasi muda kembali ke masa lalu. Sebaliknya, tradisi harus menjadi akar yang memberikan identitas sekaligus energi bagi generasi muda untuk menghadapi masa depan.

“Prestasi harus kita kejar setinggi mungkin, tetapi akar jangan dicabut. Pencak Silat harus hidup di arena pertandingan, di padepokan, di sekolah, dalam seni budaya, dalam pendidikan karakter, dan terutama dalam kehidupan masyarakat,” tegas Abi Iwan.

Karena itu, kepengurusan IPSI Mauk periode 2026–2030 yang dipimpin Abdul Ghofur bersama Siti Nuraini sebagai Sekretaris dan Putri Rahmawati sebagai Bendahara, memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang tidak ringan.

Agenda organisasi tidak hanya berkaitan dengan kompetisi, tetapi juga mencakup konsolidasi internal, pembinaan atlet sejak usia dini, peningkatan kapasitas serta sertifikasi wasit dan juri, hingga merawat dan mendokumentasikan kembali pencak silat tradisi yang mulai terserak.

Membangun IPSI sebagai Rumah Bersama

Gagasan tersebut mendapat sambutan dari berbagai elemen yang hadir dalam pelantikan. Ketua IPSI Kabupaten Tangerang, H. Yani Sutisna, mengingatkan bahwa pencak silat memiliki peran penting sebagai sarana pembentukan karakter generasi muda di tengah perubahan dan disrupsi zaman.

Sementara itu, Camat Mauk Angga Yulyantono menekankan pentingnya peningkatan kapasitas para pengurus agar organisasi mampu menjalankan tugas dan program secara optimal.

Dukungan terhadap pelestarian seni budaya pencak silat juga disampaikan Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang, Hj. Aida Hubaedah, yang berkomitmen mengawal dimensi seni dan budaya dalam perkembangan pencak silat.

Kehadiran sejumlah unsur wilayah, di antaranya Danramil 09 Mauk, Dansatradar 401/Tanjung Kait, serta para guru besar padepokan, semakin memperkuat semangat untuk menjadikan IPSI sebagai sebuah “Rumah Bersama” bagi seluruh insan pencak silat di Kecamatan Mauk.

Rumah bersama yang dimaksud bukan hanya tempat untuk mengejar medali dan prestasi olahraga, tetapi juga ruang untuk menjaga tradisi, menghormati petuah para pinisepuh serta memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk tumbuh menjadi pribadi yang berani, disiplin, berakhlak dan memiliki kesadaran terhadap akar budayanya.

Acara kemudian ditutup dengan peragaan jurus dari para pesilat muda Mauk. Gerakan para pesilat tersebut seolah kembali menghidupkan pesan dari dua bilah Golok Kopak Rawing yang diserahkan pada awal acara.

Berpegang pada nilai, mampu menghadapi perubahan, tetap teguh dalam perjalanan, dan tidak kehilangan tujuan.

Nilai itulah yang diharapkan menjadi napas kepengurusan IPSI Mauk selama masa bakti 2026–2030.

*Red

0 Komentar

© Copyright 2026 - SILORA NEWS